Bunga Liar

berdaun merah jambu, berbunga biru terang

  • 14th January
    2014
  • 14

Berlian

Kurapikan ujung keliman alas meja dengan hati-hati, hidangan malamku sudah siap. Ia akan pulang pukul tujuh malam ini dan aroma tubuhku sudah menguarkan wangi kesukaannya. Semua haruslah sempurna. 

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang keenam. Ia akan membawa mawar putih seperti tahun lalu, memberi kotak beludru merah berisi cincin dengan permata berkilauan dan aku akan membukanya sambil tersenyum manis. Ia akan memuji hasil masakanku sambil mencium kening, bibir dan kami akan mengakhirinya dengan pergumulan di tempat tidur. 

Ia bilang aku tak akan bosan berada di rumah. Memasak di dapur membuat pipiku seranum tomat dan pujiannya tentang masakanku akan membuatku terbuai. Ia gemar meneliti hasil pekerjaanku, kisi jendela haruslah bersih dari debu. Sofa yang ia duduki tak boleh berbau barang sedikit pun. Ia juga tak suka jika aku tak menyikat leher kemejanya, sedikit noda akan membuatnya kesal. Kubeli sikat paling lembut agar tak merusak serat kain dan dengan hati-hati kusetrika dengan panas sedang. Semua bajunya harus licin dan tergantung dengan indah di dalam lemari kayu kami. Kau juga harus jujur, jika menemukan uang dalam saku celanaku harus dikembalikan. Maka sebelum mencuci baju, tugasku adalah merogoh satu persatu kantong celananya dan mengembalikan isinya. Apa saja, uang, kertas, struk belanja dan lain-lain.

Seorang perempuan juga harus pandai mengurus rumah dan tak boleh ada yang terlewat katamu. Aku membeli sebuah notes kecil, berisi catatan apa yang harus kulakukan setiap harinya. Malam hari sebelum tidur akan kutulis semua yang harus dilakukan. Besok aku harus membersihkan gelas-gelas tinggi, piring-piring cantik berwarna pualam dan mencari alas meja paling baru dalam tumpukan. Tanganku kembali meneliti daftar dari atas, merunut sambil berpikir apalagi yang harus kurapikan. Aku tak mau wajahnya memberengut kesal karena besok akan ada makan malam dengan teman kantornya. Aku harus belanja banyak, memasak dan setelahnya berada di kamar menunggu teman-temannya pulang. Seorang perempuan tak pantas berada di antara begitu banyak laki-laki, katanya sambil mencium bibirku pelan-pelan. Aku kembali terbuai, ia begitu memerhatikanku.

Aku suka membuat kue, ia menyuruhku menggunting resep dari majalah. Tak usah membeli buku-buku dengan sampul beragam jenis masakan itu, kau harus pergi berpanas-panas ke toko buku, katanya. Lemari pendingin kami memiliki banyak makanan hasil uji coba resepku yang sebagian sudah dibagikan pada tetangga, ia tak suka makanan manis. Seorang wanita juga harus pandai merawat tubuhnya. Tak perlu ke salon, kau akan bertemu macetnya ibukota  nanti. Setiap dua minggu sekali seorang nenek yang telaten akan melumuriku dengan ramuan dan rempah wangi. Tubuh yang harum akan selalu membuatnya bergairah di tempat tidur. 

Dia benar. Selalu benar. Kesibukan akan membuatku sehat. Tak perlu menyewa pembantu, kelebihan uangnya bisa digunakan untuk yang lain. Tak perlu juga senam aerobik ke klub olahraga, menyibukkan diri akan membuatku langsing. Aku berkaca sambil memutar tubuhku, benar juga. Lingkarnya masih terjaga sempurna

Tubuhku akan bergerak sendiri tanpa alarm, terpicing di pukul empat pagi. Mandi, membuat sarapan, memoles lipstik sedikit kemudian mengguncang tubuhnya. Ia akan terbangun, terhuyung ke kamar mandi dan sarapan dengan malas. Pekerjaan selalu membuatnya lemas dan tak bergairah di pagi hari. Capek. Lembur terus setiap hari. Begitu katanya. Aku tersenyum manis, ia tak membalas. Sibuk dengan telepon genggamnya. Ah sayang, aku ulang tahun hari ini. Ia masih sibuk dan tak mendengar, kuulang lagi dan wajahnya terkesiap. Oh maaf sayang, urusan kantor. Aku sibuk, bagaimana kalau kita ke mal dekat rumah akhir pekan nanti. Ia mendekatkan bibirnya yang basah, aku bersemu merah merasakan kecupannya yang hangat. Kuantar langkahnya dengan senyuman, ia tak melihat, sibuk bercakap dengan orang di telepon pintarnya.  

Matahari turun ke barat, sore pun datang. Semua masakan telah siap dan tinggal menuangkannya dalam piring-piring saji yang putih bersih. Itu nanti saja, setelah magrib akan kulakukan. Wajahku berembun dan memerah terkena asap masakan. Ia akan  memuji bahwa aku secantik bidadari jika sedang memasak. Aku ingat belum membeli lemon yang besar dan gemuk untuk dijadikan minuman segar kesukaannya.  Persediaan juga sudah tak ada. Ia akan kesal jika lemon tea yang segar tak tersaji di meja. Salahku, seharusnya kucatat dalam daftar belanjaanku tadi pagi. Uang yang biasa ia beri sudah habis. Mungkin tak apa memakai uang dari saku celana yang kucuci tadi pagi. Struknya akan segera kuselipkan dalam tempat sampah paling bawah nanti. 

Aku duduk di bawah kanopi hijau, gerimis membuatku harus berteduh. Segelas teh hangat dihidangkan pramusaji barusan. Kepulan asap wangi melatinya segera pergi terbawa angin yang dingin. Sekantong lemon yang segar dan kuning cerah di atas meja, pandanganku berlalu lalang mengikuti beberapa langkah orang yang tergesa sambil menutupi ubun-ubun mereka dari gerimis. Kulihat engkau di sana, memakai mantel coklat hadiah ulang tahun dariku. Tanganmu memeluk bahu seorang perempuan. Ia lebih muda dariku. Tak lama kemudian kau mengecup bibirnya, wanita itu tersenyum dan mengecupmu kembali. Mataku terpaku. Kusambar notes berisi tulisan kecil-kecil dengan tinta biru dan kulempar ke tempat sampah. Aku tak mau lagi mencatat.  Kakiku terayun cepat menuju rumah, menyambar enam kotak perhiasan, mengambil jaket dan mengambil uang dari selipan baju paling bawah di lemari. Langkahku berbalik menuju pintu keluar dan menuju toko perhiasan. 

"Tapi ini bukan berlian Bu, ini hanya cincin perak biasa", penjaga toko berlian itu menerangkan berkali-kali. 

  • 12th December
    2013
  • 12

Bapak, Apakah Kau Sudah Mati?

Aku mendidihkan dendam dalam kepalaku; warnanya magenta pekat dan hatiku sakit dari hari ke hari. Air mataku kini kering, setelah sebelumnya mengalir lewat selokan berbau langur. Aku sibuk menulis dosamu sepanjang hari dan tak pernah menghapusnya barang sekata.

Bapak, apakah kau sudah mati? Sejatinya aku hanya menanyakan kabarmu, maaf jika kata itu terlanjur kuhapal lengkap dengan rekaman kenangan di dalamnya. Ular dalam kepalaku mulai tumbuh sejak kau pernah mengacungkan golokmu yang sedang kau asah di bawah pohon waru dengan daunnya yang berlugut. Siang itu, selesai sang muadzin mengumandangkan azan zuhurnya kau mengejarku. Kaki kurusku bergegas ke dapur dan duduk di pojok ambin bambu sambil menangis. Aku tak tahu dosa apa yang membuatmu begitu ingin menghabisi nyawaku. Ingus dan air mata yang deras bercampur ketakutan menjadi temanku kala itu. Sayup kudengar kau akhirnya cekcok mulut dengan Ibu, samar pula tercium bau gosong dari panci yang sedang memasak nasi. Ibu datang tergopoh dan menurunkan masakannya dengan tergesa dari kompor minyak. Kaki kecilku yang menjuntai hingga ke lantai dapur kami yang tanah merah terkena pinggir panci dan aku tak sadar hingga kemudian ia melepuh.

Bapak, benciku padamu tak berujung. Begitu juga padamu, Ibu. Kalian sibuk bersiteru, dititipkannya aku, anakmu satu-satunya pada siapa saja. Sampai tak pernah kalian sadari bahwa keperawananku habis di usia Sekolah Dasar. Adik laki-lakimu Pak, ia terus memainkan jemarinya di sana. Selangkanganku sakit, ia selalu memintaku duduk di atas pangkuannya. Aku tak mengerti dan hanya duduk menurut. Aku kerap menangis di malam hari, kau sering membentak dan mengatakan bahwa kelaparan selalu saja menghampiri mulutku yang rakus.

Aku mengharap kabar datang entah dari mana yang mengatakan bahwa kau mati. Kematian yang tragis. Aku durhaka? Silakan kau teriakkan kata itu dengan lantang, aku tak peduli. Kau paksa aku melihat spermamu berceceran pada perempuan selain Ibu. Dan kau tuding ia berselingkuh dengan lelaki lain.

Berapa lama kita tidak berjumpa? Terakhir kulihat kau pergi membawa dua kemeja yang dimasukkan paksa dalam tas hitammu. Tak ada pamit atau menoleh barang sekejap. Kukira kau akan kembali lagi setelah dua atau tiga minggu, nyatanya dua puluh tahun berlalu kau masih saja enggan pulang. Ibu bilang kau pergi setelah meminta izin akan menikahi seorang janda yang telah hamil lima bulan oleh orang lain. Tapi aku masih mendengar kabar itu, Pak. Kabar bahwa kau diseret warga keluar kamar berdua dengan seorang perempuan saat bulan puasa tiba. Air mataku bercucuran mendengarnya, malu sekali.

Kerut halus pasti sudah muncul di wajahmu. Tubuh tegak yang menjulang sombong pasti tak sekokoh dulu. Masihkah kau seangkuh dan menggelegar ketika marah? Hardikmu tak pernah pelan ketika aku lalai mengerjakan sesuatu. Kau tak pernah perlakukanku seperti layaknya gadis seusiaku. Seharusnya kuminta pada Tuhan dulu, agar aku tak tercipta dari air mani milikmu.

Sudah matikah kau? Jika belum, idul fitri tahun depan kau harus datang ke rumah. Tak usah membawa apapun untuk kami, sebab kutahu engkau telah berat membawa dosamu sendiri.

Sebuah penghakiman, Depok 11 Des 2013

  • 27th September
    2013
  • 27

Nyamuk


Ia hinggap di sisi tempat tidur saat aku memberikan tetek pada anak laki-lakiku yang dengan rakus melahap puting. Tanganku terjulur hendak menepuk hewan kecil itu. Ah, sial tak sampai rupanya. Nyamuk itu adalah nyamuk yang sama ketika menggigit kakiku semalam. Ia yang terburu-buru terbang ketika kugerakkan kaki yang tak tertutup sarung. Mertuaku yang pelit tak mau meminjamkan selimut, dibiarkannya aku memakai sarung rombeng yang membuatku harus melengkungkan tubuh agar dapat menutup dada hingga kaki, satu dari banyak hal yang membuatku benci padanya. Sementara aku memasang wajah manis dan berpura-pura menjadi menantu yang baik, ia tetap pada pendiriannya, menjadi mertua sombong yang kikir.

Sejatinya aku meragukan apakah nyamuk ini adalah hewan yang sama seperti tadi malam menggigit betisku. Mataku tak dapat menangkap codet di mata kirinya atau sayapnya yang cuma satu. Tapi lihat, cara ia menunggingkan bokongnya kemudian meletakkan moncongnya membuatku semakin yakin ia adalah nyamuk yang sama seperti tadi malam. Tanganku gatal ingin menepuk, meremas tubuhnya hingga gepeng dan tak bernyawa.

Pantatku beringsut mendekati nyamuk itu. Ia masih saja menunggingkan bokongnya dengan angkuh, aku makin gemas. Anak dalam gendonganku terusik, ia membuka matanya, menatapku lebar dan menjauhkan mulutnya dari puting. Tanganku bergerak ke arah bawah tubuhnya, menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Ia kembali menutup matanya dan mengisap susu dari dadaku.

Nyamuk congkak itu masih di sana, tak terusik dengan gerakan perlahanku dengan tangan yang siap seperti menampar orang. Akan kubuat kau tak merasakan sakit nyamuk sialan, desisku. Tangan kananku terayun pelan, ia masih saja diam di sisi tempat tidur dengan seprai bercorak bunga-bunga norak. Kaki depannya terlihat bergerak sedikit. Pelan kuarahkan tangan ke arah tubuhnya. Ah terlambat! Suaraku terpekik pelan, nyamuk dengan tubuh seluruhnya hitam itu terbang. Kusesali pergerakan tanganku yang kurang pelan. Seharusnya kelima jariku lebih rapat sehingga angin tak mengintip di sela-selanya dan pada saat setengah senti di atas tubuhnya, tanganku akan merubah kecepatannya menjadi lima kali lebih cepat dari awal. Seharusnya begitu. Gigiku bergemeletuk menahan kesal.

Ia terbang, berputar-putar di depan wajahku sehingga dengan serabutan berusaha kutangkap dan kuremas. Beberapa kali kulakukan itu dan membuka telapak tangan setelahnya, hasilnya sama saja. Betina sialan itu masih bebas berkeliaran. Ia memang betina, begitu kata koran bekas bungkus cabe yang kubaca tempo hari. Hanya betina yang menggigit, demi kelangsungan keturunannya.

Satu hewan kecil ini makin membuatku tersenyum kecut. Ia terus berputar di wajah, menguing berisik di telinga kanan, kembali lagi ke wajah dan terbang mengelilingiku. Hewan ini seperti meledek habis-habisan, kemudian kaki langsingnya mendarat di betisku yang selonjor tenang. Oh pastilah ia begitu senang mendarat di tempat empuk. Aku tambah gemas, tapi sial! Lagi-lagi tanganku tak bisa terjulur hingga bawah. Kemudian muncul satu nyamuk lainnya, terlihat montok dan terbang lebih rendah. Pastilah hewan itu keberatan badan. Ia mendarat tak jauh dari si kaki langsing dan berdiam di sana.

Kakiku mulai gatal. Si langsing terbang menjauh dan si montok tetap di betisku. Geram kulihat tubuhnya, darah siapa saja yang sudah ia hisap. Bokongnya tak terlalu menukik seperti si langsing dan pastilah ia sangat rakus hingga walaupun tubuhnya sudah gemuk ia tetap saja mengisap terus. Jika berhasil ditepuk, pastilah ia akan mati dengan darah yang sudah dihisapnya. Aku pernah menepuk nyamuk yang hinggap di sarung bantal lusuh kamar kami, gemuk dan rasanya sangat menyenangkan melihatnya mati.

Ia masih saja di sana, tak beranjak dan tak menggerakkan anggota tubuhnya walau sebentar. Tanganku mengepal tak sabaran, detik berlalu bagai menunggu dalam bilangan tahun. Aku benci ia berada di betisku, mengisap seenaknya seperti berada di kolam penuh susu. Tanganku bersiap menepuknya dengan kencang, tak peduli apakah jemari dalam keadaan rapat atau tidak, aku hanya ingin ia mati dalam genggamanku. Bayiku meronta-ronta, punggungku yang membungkuk dalam duduk mengganggunya. Aku tak peduli, nyamuk itu harus segera mati. Sebentar lagi, sebentar lagi tanganku mencapai tubuh empuknya. Darah merah akan menempel di telapak tanganku. Sebentar lagi. Biar mampus kau!.

Plak!! Tangan mertuaku yang kurus tetapi berat mendarat di pipi. “Cuma nyamuk doang aje, lu sampe bikin anak nangis kelojotan. Kaga kesian liat dia megap-megap ketindihan badan lu yang gemuk, hah?. Bego bener jadi wadon!!”

Tanganku gatal ingin menepuk, meremas tubuhnya hingga gepeng dan tak bernyawa. Akan kutepuk kau, melumat tubuh kecilmu yang penuh darah di tanganku. Nanti.

  • 14th September
    2013
  • 14

Pelayar

Aku si pelayar itu, sendirian mengarungi lautan sedangkan engkau duduk-duduk saja di geladak sambil memeluk kopi hitam dan rokok putihmu yang menguarkan asap sengak.

Aku si pelayar itu, sendirian menghadapi rindu. Entah rindu yang mana lagi, ia selalu gagal kuterjemahkan menjadi air mata kesekian yang menepi di ujung duka.

Aku si pelayar itu, susah payah kularungkan perahu untuk temukan pulau bahagia sambil menjerang luka sepanjang hari. Sungguh sangat kuperas keringatku menuju tempat nirwana itu berada. Engkau masih saja duduk-duduk di geladak dengan senyum yang terlipat rapi, sedang aku compang-camping menahan cinta sebelah tangan.

Di suatu pagi yang entah mungkin aku akan menyadari cinta telah pergi dari kepalaku meski terlambat. Barangkali aku akan menjadi perempuan dengan senyum yang patah, berjalan kesana kemari membawa nyeri.

Barangkali, di suatu pagi yang entah…

Ieda Teddy, Depok 14 September 2013 

  • 6th September
    2013
  • 06

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

"Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang."

SDD, 1973

  • 10th August
    2013
  • 10

— Hari Ini dan yang Akan Datang —

Berdua atau sendirikah kita, Aretha? Menjahit bahagia dalam sehelai kain bermotif bunga. Lalu engkau tersenyum, manis sekali. Waktu itu adalah pagi yang malas, secangkir susu cokelat dan cookies vanila terhidang di atas mahoni pipih. Kemudian angin datang mengintip dari buku-buku jendela, engkau melirik sedikit dan melambaikan tangan. Tak lama kemudian engkau berdiri dan memandang dandelion yang sedang bergoyang.

Tentu saja kita akan bahagia berdua. Menjauh dari tubir sepi dan memetik gerimis siang nanti untuk di simpan dalam toples, katamu. Engkau mengulurkan jemarimu lalu menggandengku keluar dengan bertelanjang kaki. Angin menerbangkan rambutmu yang panjang, menyusup ke balik rimbun bulu mata sambil mencuri senyum. Ah, tak akan ada yang dapat mengambilnya dariku, Aretha. Sebab engkau menyimpannya begitu banyak dan selalu akan ada untukku.

Ieda Teddy

  • 10th August
    2013
  • 10

Mungkin cinta itu begini, engkau pergi berlalu dan aku terus menghitung senja di almanak yang kulingkari dengan tinta sedih

Ieda Teddy

  • 9th July
    2013
  • 09

Komedi Gelap

Sasa kembali memutar tubuhnya, menggerakkannya maju mundur bagai orang bercinta di ranjang. Sementara dua puluh empat orang lainnya masih saja berseru-seru kegirangan. “Hahaha… Huoooo… Yihaaa, goyaaang, Sasa!”. Tepuk tangan begitu riuh, lebih ramai dari biasanya. Terutama setelah absen penampilannya kemarin karena kedatangan temannya dari Malang.

Dari awal kepala rumah sakit melarang kedatangan siapapun selain Bapak, Ibu dan adiknya, Melati. Akibat peristiwa kedatangan orang dari masa lalunya itulah menjadi awal perkenalan kami. Kusodorkan tangan dengan gemetar. Sasa adalah pasien baru di sini, tapi siapa tak mengenalnya. Ia waras tapi tak waras. Sebagian dirinya terjebak dalam lubang hitam di kepalanya. Sesekali lubang itu memuntahkan isinya keluar, membuatnya kembali berteriak, meloncat-loncat di kasur atau mengacungkan gagang sapu yang diteriakkannya sebagai parang.

Sebelumnya Sasa mengenakan piama, kini ia melepasnya menjelang sore. Menggantinya dengan terusan pendek merah yang gemerlap ditimpa sinar lampu atau kemben ungu dan rok mininya yang berwarna oranye. Pada akhir penampilannya di atas panggung ia akan melepas semua, menyisakan BH dan celana dalam hitam sambil terus menari-nari.  Seperti yang kini ia lakukan.

Aku membeku menyaksikan penampilannya. Perawat laki-laki yang tadi mengajakku berbincang masih tertawa geli. Menertawakan orang gila, atau kami yang gila dan mereka yang sesungguhnya waras.

"Penampilanmu tadi luar biasa sekali, Sasa", ujarku sambil melangkah lebih lebar agar sejajar dengannya. Ia menyeka keringatnya dan menoleh. "Maksudmu?". Ia mengernyitkan dahinya. "Iya, kamu cantik sekali dengan baju ungu dan rok oranye itu". Ia tersenyum. Matanya tak lagi merah. Aku membantunya mengenakan piama kembali.

                                                           *

Ini hari kedua kami berkenalan, aku duduk menemaninya di taman. Ia senang melamun di bangku dengan cat berwarna hijau bola tenis. “Sasa belajar menyanyi di mana?”, tanyaku perlahan. Ia menjawab bahwa Mbak Minah dulu meminjaminya radio tape yang dapat disetel lagu dangdut kapan pun ia mau. Mengingatnya dengan baik dalam otak dan hingga kini melekat dalam ingatannya. Kutaksir raut wajah dan perawakannya, Sasa pastilah berasal dari keluarga berada. Sampai kemudian ia mengatakan bahwa ibunya adalah dokter bedah dan ayahnya seorang pengacara. Kelihatannya ia menyukai caraku memperlakukannya. Semua pertanyaanku dijawab seperti laiknya seorang teman.

Aku mengantarnya ke kamar saat matahari menanjak naik. Ia kelihatan lebih santai dan banyak tersenyum sambil mengangkat tangan pada teman yang ditemuinya di koridor untuk menyapa.

Sore harinya ia berteriak-teriak memanggil namaku. Aku tersengal sampai ke kamarnya sambil menyeka pelipis yang berkeringat. “Tolong pilihkan baju untuk konserku nanti malam”, senyumnya lebar. Konser, demikian ia menyebutnya. Telunjukku mengarah pada terusan merah gemerlapnya, memangnya dia punya berapa baju, gumamku sendirian. Sasa tak mau rambut pendeknya, ia membencinya sambil menjambak-jambak ujungnya. Ia juga menginginkan sepatu merah dan silver untuk konsernya. Kukatakan nanti akan disediakan. Kami harus menelepon ibunya dulu. “Pilihanmu bagus, Masita. Ini akan menjadi konser yang menakjubkan karena aku akan menyanyikan lagu baru”, wajahnya antusias.

Tak lama kemudian ia sudah menghambur ke tengah lapangan dengan baju merah, sandal jepit dan rambut pendeknya. “Konser Sasa akan segera dimulai”, lengkingnya. Tak lama para penghuni bangsal menghambur keluar dan tertawa senang. Aku berdiri di tepi koridor yang memisahkannya dengan lapangan luas.

Benar saja, Sasa menari lebih lincah dari biasanya. Liukan tubuhnya seperti naga putih. Beberapa lagu ia nyanyikan, termasuk lagu yang dikatakannya baru. Belajar darimana dia. Semua penonton ikut bergoyang, Sasa menari di atas meja yang memang disiapkan untuknya. Malam menanjak naik, ia seperti tak kehabisan tenaga. Terus dan terus saja menyanyi sambil menari. Tak ada musik, semua terhipnotis dengan suara dan tubuhnya. Tiba-tiba ia berhenti dan duduk di tepi meja, “aku capek”, ujarnya. Penonton serentak protes, “Huuuuu.. Bagaimana sih”. “Nggak seru!”. Lapangan sepi, tersisa satu orang, Banua namanya. Kulihat mereka sering bercakap-cakap dan cukup akrab.

"Jadi, darimana kau belajar lagu baru itu Sasa?".

"Itu lagu lama sih sebenarnya, cuma aku nyanyikan di panggung besar dulu", jawabnya sambil mengayunkan kaki ke kanan kiri. Kusodorkan segelas teh hangat dan kudapan dalam piring kecil. Kami mengobrol sampai malam. Aku tak menyangka bahwa ia bisa masuk rumah sakit jiwa ini. Ia paling waras diantara yang lain. Semenjak perkenalan kami tak pernah sedikitpun mengamuk atau mengacungkan gagang sapu sambil melotot. Tangannya bergerak kesana kemari ketika bicara, tertawa riang dan sesekali menatapku. Manalah mungkin ia gila, Sasa cuma terjebak dengan masa lalunya.

"Jangan-jangan dia jatuh cinta sama bu dokter", ujar Nani, perawat senior yang kuceritakan kondisi Sasa.

"Ah kamu ini", aku berlalu setelah mengambil stetoskop.

*

"Aku adalah dua di dalam satu", suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Kemudian matanya memerah, menyusul hidungnya dan setitik air mata jatuh. Kuusap bahunya perlahan.

"Pada saat ini adalah kematianku yang kedua, Masita", lanjutnya sedih.

Aku menarik napas panjang, kita tak pernah dapat memilih dua. Masyarakat tak pernah menerima dua pilihan. Kukatakan hal itu padanya perlahan, aku takut ia bertambah sedih. Hilang sudah binar di matanya tempo hari, kupeluk bahunya. Kami saling diam, hanya desau daun akasia bergesekan dengan daun lainnya. Disaat seperti ini Sasa tak boleh sendirian, kepala rumah sakit mengingatkanku berkali-kali. Lubang hitam dalam kepalanya bisa memuntahkan isinya yang busuk sewaktu-waktu. Hanya Sasa yang memiliki dokter pribadi yang mengikutinya, penghuni lain dibiarkan sendirian atau berkumpul dengan sesama temannya. Sasa yang penyendiri, ia hanya berteman dengan Banua dan aku.

Seorang wanita separuh baya dengan wajah keibuan duduk menunggu di tepi ranjang ketika aku mengantarnya ke kamar. Kuperkenalkan diri, ia lega mengatakan bahwa Sasa kini didampingi. Sebuah kantong plastik berisi wig berambut panjang, dua pasang sepatu dan dua set baju diberikannya padanya. Mata Sasa berbinar-binar menatap isinya. Ia menuju lemari di sudut ruangan kemudian mengambil tas kecil yang berisi lipstick, bedak dan pemerah pipi. Ia mencoba satu persatu barang-barang barunya kemudian bercermin sambil memutar tubuhnya. Kami tersenyum menyaksikan wajahnya yang sumringah, berbeda dari setengah jam yang lalu.

*

Pagi ini tak kujumpai ia di kamarnya, di toilet pun kosong, begitu juga di bangku taman kesukaannya. Aku mulai panik, bertanya pada para perawat, dokter, semua mengangkat bahu. Seorang penghuni rumah sakit bernama Seno memberitahu sambil tertawa berderai-derai bahwa Sasa ada di kamar Banua. Di sini orang bisa saja mengatakan hal yang serius sambil tertawa riang, atau sebaliknya.

Kutarik napas lega, Sasa sedang duduk bercengkrama dengan Banua. Ia terlihat lebih rapi, rambutnya disisir ke belakang dan samar tercium wangi sabun mandi. Mereka tersenyum melihatku datang. Kukatakan hari ini absen menemaninya, akan ada kepala perawat yang bertugas menggantikanku.

 ”Kau hendak kemana, Masita?”.

"Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan di luar rumah sakit, besok aku sudah kembali kok". Matanya mengikutiku melangkah keluar, bias kecewa sedikit terlihat di wajahnya.

*

Pagi hujan rintik-rintik, Pak Parmin buru-buru mengangkat plastik penutup becaknya dan aku turun sambil menaungi kepala dengan tas hitam. Kusodorkan uang dua puluh ribu rupiah, ia bergegas mengambil kembalian dari dompet hitamnya yang lusuh dan kempes. Beberapa lembar lima ribuan terselip, diberikannya dua padaku. Kuberikan bungkusan hitam berisi brownies cokelat, “ini untuk Budi ya, Pak”. Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih sambil menganggukkan kepalanya.

Rumah sakit sepi, pasti mereka sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi. Langkahku bergema di koridor depan. Kabut masih sedikit menggantung di udara, kurapatkan jaket sambil menggidikkan bahu kedinginan.

Di kanan koridor ramai berkumpul para perawat berbaju putih dan orang-orang berpiama, menyusul kemudian dokter yang tergopoh membawa kotak obat dan stetoskop yang menggantung-gantung dibawa derap kaki memburu. Semua menuju ke … kamar Sasa. Kutinggalkan tas besarku dan berlari sekencang-kencangnya. Pintu kamar itu dikerumuni banyak orang, sulit menyeruak diantaranya. Mulutku setengah ternganga melihat seseorang bersimbah darah di lantai. Celana piamanya berlumuran darah, menyusul kemudian lengan kirinya juga. Sebuah pisau dan silet tergeletak di kiri kanannya. Wajah Sasa membiru dan bisu. “Ia melihatmu dijemput laki-laki kemarin”, Banua mengejutkanku dengan suaranya. Selembar kertas kutemukan di pinggir lemari, lusuh dan banyak bercak seperti terkena tetesan air.

Masita, kau bilang masyarakat tak menerima dua. Mereka mau satu. Maka inilah aku, aku memilih untuk menjadi Sasa. Bukan Sasana.

"Sasana memilih menjadi Sasa. Oleh sebab itu ia memotong kelaminnya sendiri dan pergi menjadi Sasa selamanya. Dengan menjadi Sasa, ia tak perlu menyukaimu Masita", Banua melanjutkan bicaranya dengan pelan.

- Terinspirasi oleh novel Okky Madasari berjudul Pasung Jiwa- 

  • 4th July
    2013
  • 04

Nyawang

Aku terbangun dan langsung menyingkap selimut putih yang menutup dada.
“Kau tidak bekerja?”.
“Lima menit lagi aku bangun”, jawabnya malas.

Matahari mengintip dari buku-buku jendela dengan tirai sedikit terbuka. Sebuah blouse berwarna turqouise tersampir, berturut-turut barang lainnya tergeletak di kursi. Tak jauh, sebuah kemeja abu-abu diletakkan dengan sembarangan. “Di mobil ada kemeja lain, Sayang. Tak usah khawatir”, tangannya mulai meremas pinggul, mengelus perlahan dan bibirnya mencari leherku sambil terpejam. Aku menggeliat. Tolakan halus itu tak berhasil, jemarinya terus menjelajah, merayu tanpa bicara. Aku menyerah, kami memulai pagi dengan basah dan tinggi.

“Nanti malam kita bertemu lagi?”, tanyanya sambil memeluk.

“Aku ada janji dengan pembeli”.

Wajahnya sedikit memberengut. Kupeluk ia dari belakang dan menciumi tubuhnya yang wangi parfum dengan aroma bergamot. Ia berbalik, menangkap kedua tanganku dan membawa ke belakang tubuhnya. Kami berpelukan. Hening diantaranya, hanya napas pelan dan teratur. “Aku mencintaimu”, ia melepas dekapannya dan mengambil tas kerja di sudut setelah menggulung kemeja hingga siku.

Ia berlalu dari pandangan, menyisakan wangi parfum yang tertinggal di ruangan dan kepalaku. Langkahku bergerak menuju toilet, menutup tirai tipisnya dan mulai menyalakan shower.

                                              ***

Berkeliling pandanganku di restoran dengan arsitektur Jawa ini, mencari-cari sosok perempuan yang sedianya telah menghubungi berkali-kali.
“Mbak sudah sampai mana?”, sebuah suara di telepon genggam terdengar empuk.

“Saya sudah sampai, Mbak”.

Kami bertemu muka pada akhirnya, ia memilih tempat duduk di samping taman dengan pancuran yang terbuat dari bambu. Berjungkat-jungkit ketika kosong kemudian menumpahkan airnya jika sudah penuh. Beberapa ekor ikan koi berenang ke sana kemari, pada pinggir kolam yang ditumbuhi pegagan air, beberapa bunga warna-warni begitu cantik dipandang. Kursi-kursi empuk dengan ukiran rumit tak begitu dipenuhi orang-orang, beberapa diantaranya bercakap dalam suara kecil dan rapi.

Wanita di depanku terlihat sederhana dengan rambut yang diangkat ke atas. Sepasang giwang terpasung di telinganya yang kecil dengan beberapa anak rambut menjuntai manis. Mata cokelatnya dinaungi alis rapi dengan lengkungan sempurna. Bicaranya pun tertata apik. Ia banyak bercerita tentang kebahagiaan dalam hidupnya. Memiliki dua anak dan suami yang berprofesi sebagai direktur perusahaan kayu lapis. Ruko yang akan dibelinya dariku sedianya akan digunakan untuk usaha salon agar dirinya memiliki kesibukan lain. Sebentar kemudian bibirnya bergerak mengucap maaf memohon izin untuk mengangkat telepon genggamnya.

Dua puluh menit kemudian dua anak kecil menghambur masuk lewat pintu restoran sambil berlari. Tas punggungnya yang besar gaduh oleh suara benda di dalamnya yang ikut berguncang-guncang. Mereka bergelayut di kiri kanan kursi klien di depanku, berebut cerita tentang yang dilihat di jalan.

“Panji, Adila, kenalan dulu nih sama teman Mama. Namanya Tante Ratna”.

Aku tersenyum. Dua seringai lebar dengan gigi susu mengucapkan salam secara bersamaan. Kemudian mereka sibuk memilih menu, kembali bercerita sambil tertawa riang menunggu makanan datang. Si bungsu memamerkan hasil gambarnya di sekolah, sang kakak menimpali bahwa awan yang diwarnainya terlalu biru. Mereka terus bercakap-cakap sampai datang sosok lain.

Seandainya saja semua kebahagiaan itu milikku, Mas. Jika saja aku bukan daun yang mengharap angin bertiup untuk sekadar tahu bahwa engkau ada dan menghidupiku. Kita bertemu memang bukan untuk berpisah, tapi bersama sampai mati adalah tak mungkin. Sesak dadaku terus berandai-andai jika saja perempuan di depanku ini adalah aku. Sementara wangi parfum aroma bergamot dan lengan kemeja yang digulung hingga siku menjadi pemandangan yang terus kusaksikan di depan mata, aku tahu pandangan matamu telah menancap hingga ke ulu hatiku. Sampai bertemu nanti malam, Mas. Kau harus datang sendiri, tanpa anak dan istrimu.

-Pondok Indah, 24 Mei 2013

  • 4th July
    2013
  • 04

Aku ada dalam gelembung yang kau tiup tadi pagi. Berkilat-kilat bening dan menjadi pelangi dalam bulatan. Terbang melintasi debu dan semesta pikiranmu, terus dan terus kemudian tiada. 

  • 26th May
    2013
  • 26
RASA JADI KATA: Buta dan Bisu

lovepathie:

Kamu

Seribu kunang-kunang kukirimkan untuk duniamu yang gelap. Kamu meraba-raba yang terbaik rupanya, tanpa tahu bahwa kamu memang terlahir buta. Kamu pikir dunia seolah meredup, miliaran pemerhati sudah tak sanggup. Tapi penglihatanmulah yang harusnya dipertanyakan, karena di duniaku masih…

  • 16th December
    2012
  • 16

Masa

Saya percaya bahwa bahagia memiliki tempatnya sendiri, suatu saat ia akan dibagikan padamu dalam masa yang tepat. Seperti biasa, ketika kamu meminta bahagia lebih sering maka harus lebih sering meminta juga, dengan berbaik-baik padaNya. 

Dahulu sekali, saya memimpikan seorang pria yang akan mendampingi selama-lamanya masa kami. Lalu ia datang dan kami menikah dengan ukiran paes ageng di dahi saya dengan janji paling agung yang diucap dengan menyebut namaNya. Ia sebaik-baiknya kekasih, ada di kala sedih dan suka datang berganti. Dan saya berhenti membicarakan kehilangan, sebab hanya tanganNya yang mampu memisahkan genggaman kami. 

Saat itu, impian yang lain tengah berkecambah dalam pikiran saya. Saya ingin anak kecil yang manis dan riang. Namun saya harus melewati masa pernah menangis begitu hebat di pagi hari, menahan sakit dengan darah yang banyak, diagnosa medis yang membuat saya tak konsentrasi berhari-hari lamanya dan banyak melamun. Ia bilang bahwa saya harus berhenti memikirkannya dan mari banyak tertawa. Saya masih menginginkannya, berangan-angan membuatkannya sarapan setiap pagi, ke bioskop di akhir pekan, berenang sambil tertawa-tawa, membacakannya dongeng, mengecup keningnya dan memeluknya sebentar menjelang tidur. Tak masalah apakah ia akan berkaus Superman atau bergaun pendek merah jambu yang berenda-renda cantik. 

Di masa yang lain, saya akan menjadi Ibu dengan anak-anak yang nakal dan pintar. Merawat mawar-mawar saya dan tak berhenti menulis. Sumber inspirasi tentunya masih dari kamu, tempat saya membagi bahagia yang kadang terlalu penuh dalam kepala. Masa itu akan datang sebentar lagi. Dan saya berhenti menghitung nikmatNya. Sebab dicintai dan memiliki cinta yang begitu besar akan menghidupkan saya, terus-menerus. 

Depok, 16 Desember 2012 

  • 2nd December
    2012
  • 02

Elegi Dua Bibir

Aku sibuk memotong-motong senyummu.

Aku sibuk memotong-motong kenangan tentangmu, Kasih.

Apakah aku seburuk itu?

Kau begitu lekat dalam ingatan yang baik.

Cintaku tak membutuhkan amnesti, Rona.

Lalu kau namakan untuk apa cintaku? Betapa berat mencintai dan tak memiliki.

 

 

 “Lu udah gila ya, kerja lima belas jam sehari!”. “Seenggaknya gue tau cara bikin diri sendiri bahagia”, jawabku ringan. “Elu yakin kalo diri lu sendiri bahagia?”.

Hening. Kututup telepon tanpa salam. Telepon pintar itu kembali bernyanyi, nama yang tertera di layar masih sama. Kuangkat dengan malas, sebelah tanganku bertelekan di atas meja kerja.  Beberapa kepala muncul dari balik kubikel dengan penasaran. Tanganku memberi isyarat meneruskan pekerjaan. 

“Kok lu tutup sih telepon gue?”.

“Kita ketemu aja nanti pulang kantor”. Klik.

Pandanganku berhenti di monitor, menatap jauh angka-angka fantastis. Mereka menari, mencibir kemudian perlahan-lahan menjadi putaran-putaran yang tidak kumengerti. Perjumpaan denganmu membuatku gila, Rona!  Berapa kali kita berjumpa masih dalam hitungan dua tangan, tapi otak dan perasaanku tak sinkron di awal pertemuan. Kuputar-putar cincin di jari kanan. Ini sakit, Rona. Seandainya saja dapat kutolak ajakan Ega untuk tak menjumpaimu waktu dulu. Manalah mungkin aku jatuh cinta pada insinyur dengan nursery besar di pinggiran Jakarta itu. “Seandainya kita tidak berjumpa waktu itu, aku juga tak mungkin jatuh cinta pada manager bank asing sepertimu yang kaku dan cantik”. Aku tersenyum mengingat satu persatu percakapan kita. Apakah kau pernah juga begitu, Rona?

Rasa-rasanya aku tak sanggup mencintaimu dengan batas. Semenjak perjumpaan itu sosokmu melekat dalam ingat. Kucoba alihkan dengan banyak bekerja, berkencan dengan pria lain, menyetujui ajakan orang tuaku dengan mengenalkan pada mas Bram yang kini membelah perasaanku sendiri dan dengan gilanya mengiyakan untuk sebuah acara lamaran dan seterusnya dan seterusnya hingga nama kami ada dalam catatan sipil. Dan aku masih menggilaimu pelan-pelan. Apalagi kalau bukan karena sikap dingin yang sulit ditafsir seperti mimpi anak-anak tanggung yang sedang kasmaran. Dari lantai tiga aku tahu jelas bahwa menatap keluar berarti menjejakkan angan tak berkesudahan tentangmu. Gedung di seberang jalan tempatku bekerja menampilkan beberapa fatamorgana manusia yang hilir mudik dalam ruangan berkaca biru. Kuharap salah satunya adalah engkau dan melambaikan tangan sebentar saja.  

Gue nggak bisa ketemuan malam ini, sorry ya Ga. Kuketik pesan singkat sambil membuang napas lega. Elu kenapa sih, banyak yang mau gue share ke elu malem ini. PENTING!. Setengah menit kemudian balasan itu berbunyi. Kumatikan ponsel dan kembali menekuri papan ketik dengan layar penuh deretan sheet-sheet excel dan tabel warna-warni. Aku tak sanggup mendengar apapun tentang Rona.

***

Satu setengah bulan kuhalangi pikiran untuk menjumpaimu, Rona. Kutelan bulat-bulat sedih yang sendirian di lorong gelap bernama kenangan. Apa yang salah dengan pikiranku, ia memasungmu terlalu lama. Sampai kemudian sebaris pesan dari orang lain memberitahu bahwa kau sakit. Nursery milikmu hanya dijaga pegawai, kutilik beberapa mawar dalam pot tak sesegar hujan sore. Kesedihan melangitkan merahnya, mungkin.

“Pak Rona kecelakaan, sekarang dirawat di rumah, Bu”.

Aku tak mungkin menemuimu. Hatiku carut-marut dengan api yang terus kupelihara dalam dada. Betapa penyangkalan sangat sulit kulakukan.

“Jadi lu udah tau kalo Rona sakit? Dia kecelakaan, Kasih. Kecelakaan sampe kakinya terancam diamputasi. Lu tau nggak itu? Orang macam apa sih lu yang gak mau denger berita menyedihkan kaya gitu”, Ega terus membuatku menyingsut ingus yang berleleran, sementara tanganku bergantian menyeka air mata. Perasaan yang teraduk menjadi demikian sibuk. Gerimis turun perlahan-lahan menggelapkan langit pikiran. Di ruangannya kupandangi sosok tampan dengan hidung mencuat dan bibir tipis yang sedang duduk di tempat tidur menghadap komputer jinjing berwarna hitam.

“Bagaimana kabarmu?”, tanyanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum. Pahit. Menatap selimut putih sebatas pinggang yang sedikit kusut. Tangan kanannya terjulur kemudian menaruh kepalaku dalam rengkuhannya. “Aku tidak apa-apa”. Kurasakan degup jantungnya terdengar pelan dan halus. Tangannya terus mengelus rambutku. Dengarkah kau Rona, aku menjerit sendirian menangisi cinta dalam duka yang entah.

Sengaja kukirim pesan lebih sering dalam sehari, mengingatkannya makan, minum obat dan istirahat. Ia hanya membalas seadanya, singkat dengan jawaban ya saja, selebihnya tak ada. Telepon-telepon tak pernah diangkat, email panjang lebar dengan banyak cerita hanya menyisakan notifikasi sudah dibaca. Selebihnya sepi. Tanyaku menjadi gundukan perasaan yang tersimpan di kerongkongan, suaranya sengaja menjauh. Jadwalku kembali sibuk dengan meeting, daily report, berurusan dengan kantor pusat dan cabang seantero Indonesia. Aku masih melamunkanmu, Rona. Kemudian apa yang menguasai kepalaku tak jelas betul waktu itu, roda mobil bergerak cepat di akhir minggu menuju rumah dengan pagar kayu dan ukiran bunga mawar pada daun pintu utama. Kuketuk dengan takut-takut. Waktu itu kulihat engkau duduk menghadap jendela dengan kaca berembun. Jauh menatap sekumpulan bunga bohemia jingga yang bergerombol di pergola belakang. Lamat-lamat kudengar suara musik jazz menggema.

“Bagaimana kabarmu?”, tanyaku pelan sekali, khawatir membuyarkan lamunan yang terbangun. Tak ada jawaban. Tak ada aku di sela pikiranmu. Aku hanya patung di tengah ruangmu yang kosong.

“Aku membawa surat untukmu, kutulis sehari setelah perjumpaan terakhir kita”, kataku lagi. Kau masih diam. Sesekali bulu matamu hanya bergerak turun naik, lambat sekali. Aku bisa mati dengan kebisuanmu.  

“Aku lelah mencintaimu, Rona”

“Seperti berlari mengejar cakrawala dan batasnya hanya Tuhan yang tahu”

 

Aku terisak menuju kalimat ketiga, tak sanggup memunguti remahan yang berjatuhan dari hati. Waktu serasa memendek dengan sendirinya, kurasakan kita akan sejengkal lamanya. Tak akan ada lagi kisah yang memanjang. Aku beranjak untuk berdiri di sampingmu dan kau masih diam. Tak ada lagi lengan yang terulur untuk membawaku ke degubmu yang halus seperti kemarin. Tak kusimpan wangi parfum yang lekat di hidung. Tak lagi kuabadikan senyum yang kerap membagi perasaan. Tak ada lagi Rona.

Senja turun dengan rintik yang tipis-tipis. Kabut polusi Jakarta memekatkan udara. Sehelai puisi terjatuh dari genggaman tangan kokoh, gemetar ia tak sanggup mengibaskan air mata dari si pemiliknya yang tampan.

“Demi angin yang berlalu dari gaunmu …”

“Engkau bukanlah pekat yang habis ditelan kepulan kopi”

“Engkau bukan tanah tempat hujan meninggalkan jejak lalu pergi ke langit”

“Engkau adalah Kasih yang berdiam dalam perasaan”

“Mengental menjadi magenta pekat dalam kisi rindu”

  • 25th November
    2012
  • 25

Hati yang Patah

Hati saya sedang patah. Karenanya saya memilih pergi bersepeda sampai jauh sendirian, kemudian melamun di tengah lampu merah. Melewati jalan naik dan turun, pura-pura tak mendengar siulan usil pengendara motor atau mobil. Mencoba melewati rute lebih jauh dan menyasarkan diri. Mendapati diri berada di jalur sepeda satu-satunya dan mencoba tersenyum pada penyapu jalan dengan topinya yang lusuh.
                                     

Hati saya sedang patah dan tak ingin membalas pesan siapapun, sampai berjam-jam lamanya. Saya sedang tak ingin peduli kecuali mendiamkan perasaan dan berjalan kesana kemari dengan kosong. Kemudian roda sepeda terhenti di penjual bubur ayam. Penjualnya sepasang suami istri dengan logat Sunda yang ramah. Sang ibu menyisakan lipstik merah di gigi depannya, ia tersenyum sambil menyorongkan segelas teh hangat pahit. Selanjutnya saya tak banyak memperhatikan, sibuk dengan senandung yang sengaja diputar keras-keras dalam kepala.


Saya masih mengayuh pedal dengan perasaan kosong. Melewati pom bensin yang dulunya ramai namun kini menyisakan guguran daun dan sepi. Di seberangnya, kami dulu pernah berciuman sambil menunggu hujan reda. Sepuluh menit kemudian saya berada di deretan buku-buku bekas. Tumpukan kertas menguning dengan sampul-sampul tebal selalu menarik perhatian. Saya akan duduk di lantainya dengan celana jeans yang robek di sana-sini, menemukan harta karun berupa novel dengan bau khas campuran vanila dan kertas kuning dalam bilangan beberapa tahun lalu yang ditulis pengarangnya sepenuh hati. Kemudian saya mampir ke penjual bunga langganan di tepi jalan. Berbincang sebentar dengan Pak Iwan dan mengatakan mawar oranye yang dijualnya sangat cantik. Ia berjanji menyimpankannya untuk saya dan boleh mengambilnya minggu depan. Kemudian saya pulang, mengayuh pedal kuat-kuat dan banyak tersenyum dengan orang yang ditemui di tepi jalan. Hati saya masih patah.

  • 15th November
    2012
  • 15

Sembilan Matahari

Cinta kita adalah perasaan yang hidup di negeri dengan sembilan matahari. Berjajar ia di langit membakar apapun yang menantangnya. Sepanjang tahun kita akan berdiam dalam tempurung kepala masing-masing, enggan keluar rumah. Taman kita adalah kaktus-kaktus liar dan tanaman kerdil dalam pot-pot kesedihan. Suatu kali setelah mengumpulkan keberanian sebesar gada, aku datang mengendap-endap dengan banyak kata yang berjatuhan dari kedua tangkup tanganku — memohon agar dapat kupanah kesembilan matahari. Kau mengganggukkan kepala. Boleh, jawabmu.

Rona, aku hendak memanah sembilan matahari! Banyak sekali. Di pagi buta aku bangun menyiapkan teh hangat untuk pikiran yang menggigil semalaman. Dan sepanjang hari pekerjaanku adalah meraut kayu sonokeling yang berasal dari pohon di halaman belakang dengan atap rumah yang murung — pohon yang disiram dengan air susu setiap hari, kuperas dari sapi-sapi yang juga hidup dari memakan daun pohonnya.

Satu busur dan sembilan anak panah selesai dalam sembilan bulan. Ujung anak-anak panah terbuat dari air mata. Setiap hari aku harus bersedih agar dapat kutuang air mata ke dalam gelas dan mengasahnya hingga runcing. Aku tak hendak meminta izin lagi padamu, Rona. Akan kupanah sembilan matahari itu segera. Aku bukan Srikandi atau Drupadi dengan lima suami yang merelakan diri pergi ke langit membunuh cintanya sendiri. Angin berdesir, membisikkan kalimat bahwa kau ingin satu matahari tetap hidup.

Kulesatkan satu anak panah ke dada matahari paling ujung di langit. Ia meringis. Dadaku perih. Satu persatu kulepas panah, hatiku lebam, melepuh. Matahari kedelapan mati terkulai lemah di sisi pohon trembesi kering. Langit dengan delapan lubang bergemuruh. Dadaku sesak. Hujan deras turun, beberapa cemara bergoyang ditinggalkan kawanan burung gereja. Pohon kersen kerdil memunculkan buah berwarna emas yang dengan cepat berubah menjadi merah. Orang-orang keluar rumah, menengadahkan tangan dan mulutnya. Merayakan luka.

Tersisa satu matahari untuk menghidupkan mawar-mawar di beranda rumah dengan dinding bata merah. Ia berjanji akan datang di pagi dan sore hari agar para penyair dapat membunyikan kepedihan ditinggal mati delapan matahari lainnya. Jika gelap tiba, bulan datang bersama dengan karpetnya yang berkelip, agar para pecinta dapat merindukan kekasihnya yang jauh dengan janji memetik satu bintang paling terang suatu hari nanti. Aku tersenyum dengan dada berlubang. Engkau datang berkunjung membawa seikat sepi yang paling, hendak kutampik namun kini ia berada di depan pintu. Kubuang ia ke tempat sampah, terbaca jelas pesan yang kautulis dengan darah “simpan ini sebagai aku”.

Kemudian hari datang dengan rintik tipis-tipis. Sepi. Titik-titik air muncul di jendela. Nyanyian semesta yang indah mengiringi kebisuan dengan rampak ricik, lalu harum tanah basah menyeruak di hidung. Sasmita alam menggenapi sepi, apakah kita akan tertulis dalam kalam, Rona? Sementara bibirku bisu, hatiku bersikeras melantunkan doa, berharap waktu berhenti dan menitipkan engkau di sela jeda. Ruahku tumpah dalam deretan lamunan tanpa kata. Hari semakin malam. Pada tanya yang mana lagi aku harus bertahan?